Monday, May 12, 2014

BERDOA



Bacaan : Yakobus 5:13-18 (James 5:13-18)

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (Yakobus 5:17-18).

Rasa ketergantungan hidup kita kepada Tuhan ditandai seberapa hati kita tunduk dalam ketaatan dan rasa membutuhkan Tuhan. Sikap membutuhkan Tuhan ditandai dengan seberapa sering kita bertelut di atas lutut kita untuk berdoa kepada Tuhan Yang Mahabesar. Jika Anda dan saya ingin menarik berkat-berkat turun dari atas dan mempengaruhi hidup Anda dan dunia sekitar kita. Anda harus bertelut, bersujud dengan rasa hormat dalam kerendahan hati, serta bergantung padaNya. Salah satu alasan kita begitu lelah di dalam hidup karena bergantung kepada kekuatan diri tanpa bergantung pada-Nya.

Hudson Taylor menantang: “Anda harus bergerak maju di atas lutut lutut Anda.” Martyn Llyod-Jones menulis dalam studinya tentang Khotbah di atas Bukit: “Doa, tak dapat disangkal lagi, merupakan kegiatan tertinggi manusia. Manusia menjadi teragung dan tertinggi ketika di atas lutut lututnya, ia berhadapan muka dengan muka dengan Allah.” Charles Hadson Spurgeon menulis: “Jika saya tak dapat bertelut karena badan saya terlalu lemah, doa-doa saya dari tempat tidur saya akan bertelut, hati saya akan bertelut, dan berdoa dengan sepatutnya seperti dulu.”

Almarhum Gypsi Smith bercerita tentang pertobatan pamannya, Rodney. Di dalam kelompok Gypsi, anak-anak tidak boleh berbicara kepada orang-orang yang lebih tua, kecuali kalau orang tua itu berbicara terlebih dulu. Gypsi muda berdoa untuk mendapat kesempatan berbicara. Suatu hari Roodney melihat celana panjang Gypsy yang sudah usang, “Nak, coba jelaskan, bagaimana lutut celana panjangmu sudah rusak dan sobek. Sedangkan bagian lainnya masih tampak seperti baru?” Gypsy menjawab, “Bagian lutut itu rusak, karena kupakai untuk berlutut dan berdoa bagimu paman,” lanjutnya dengan airmata mengalir, “aku sangat berharap agar paman percaya Tuhan Yesus!” Lalu Paman Roodney merangkul Gypsy dengan pelukan kebapakan, dan sesaat kemudian ia bertelut dan mengakui Kristus sebagai juruselamatnya.

Renungan hari ini, mengajak kita untuk kembali kepada semangat doa karena dunia sekarang dalam keadaan yang tidak menentu. Kita membutuhkan kuasa Tuhan yang dapat mengendalikan keadaan dunia dan hidup kita. Yakobus 5:17-18 mengatakan Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya. Marilah kita mengandalkan Tuhan dalam doa kita disetiap tugas pekerjaan pelayanan kita. Tuhan Yesus menyertai. Amen



Kata-kata bijak:
Semangat doa mendatangkan kasih dan kuasa Allah di dalam hidup kita.

 
*Disampaikan sebagai bahan renungan malam, Jumat 20 Juli 2014 dalam Pembinaan Penatua GKPI Medan Kota di Sopo Agape Tomok

SUDAHKAH PELAYANAN KASIH SEKSI DIAKONI MENJADI IBADAH YANG SEJATI?



(Refleksi Penelaahan Alkitab Tim Diakoni GKPI Medan Kota 
Dari Persembahan Janda Miskin dalam Lukas 21:1-4)



Pengantar
Tanpa kita sadari, dewasa ini tantangan hidup yang kita hadapi semakin banyak dan kompleks. Kekecewaan dan kegagalan menjadi semakin akrab dengan kehidupan kita. Bahkan, tak jarang kita harus mengalami kegagalan dan kekecewaan yang menyakitkan atau menggoncangkan hidup. Dalam kondisi itulah kita berada dalam masa krisis; bahkan krisis iman dan krisis kasih. Namun bila kita peka akan rahmat Allah, maka krisis kehidupan tersebut akan kita lihat sebagai undangan untuk semakin mendalami hati Yesus. Bila kita menanggapi kehadiran Yesus secara optimis, maka sesuatu yang mengagumkan akan terjadi, menyentuh hati dan membaharui hati.

Tak ada kebahagiaan yang lebih bermakna daripada menemukan rahasia kasih-Nya dibalik setiap krisis yang kita alami. Namun banyak orang sulit melihatnya secara rohani. Itulah rahasia yang ditemukan oleh seorang janda miskin dalam Injil Lukas, yang diungkapkan dalam refleksi ini. Sekalipun janda tersebut miskin dan sengsara, tetapi ia menemukan Kasih Ilahi dalam kehidupannya.  

Pembahasan
Pada suatu hari Yesus mengunjungi Bait Allah. Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Peti itu mungkin seperti kotak yang berada di pintu-pintu gereja modern. Apapun bentuknya, pada waktu itu Yesus melihat cara mereka memberikan persembahan. Di antara orang-orang kaya, Yesus memperhatikan seorang janda miskin memasukkan dua keping kecil logam. Melihat hal itu, Yesus bersukacita dan mungkin menangis terharu. Lalu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimp ahannya, tetapi janda ini memberi dari dana kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Sebelum peristiwa itu, Yesus berbicara tentang ahli-ahli Taurat. “Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan yang mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka itu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Lukas 20: 45-47).

Yesus memandang rendah orang yang suka pamer pada umumnya, khususnya mereka yang suka pamer kesalehan. Kemudian, muncul seorang janda miskin. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Yesus sedang memperhatikan apa yang dilakukannya. Sepengetahuan kita, janda itu tidak pernah mengetahui ia mendapat sambutan hangat dari Yesus. Karena setelahnya Yesus tidak memanggil dan menepuk-nepuk punggungnya sebagai tanda menyukainya. Tidak juga ada ganjaran atas persembahannya yang agung itu.

Siapakah janda ini? Pertama ia seorang janda. Dengan kata lain ia tidak mempunyai suami yang memberi nafkah. Ia juga seorang peminta-minta. Ia tidak mempunyai harta apa pun. Ia memasukkan uangnya “ke dalam peti persembahan”. Ia memasukkan semua yang dimilikinya, yang berupa dua keping uang logam. Kita bisa memahami dua keping kecil logam ini sebagai lambang kodrat manusia, yaitu tubuh dan jiwa. Janda itu tidak mempunyai sesuatu yang lebih berharga untuk dipersembahkan kecuali jiwa dan raganya. Namun, karena ia memberi semua yang dimilikinya, ia memberi lebih banyak daripada yang lainnya.

Tidakkah hal itu mengingatkan kita pada ajaran yang berulang-ulang dikatakan dalam Injil, bahwa yang dicari Allah dari kita adalah persembahan yang bukan saja dari uang saku kita, tetapi dari keberadaan kita yang terdalam; persembahan diri (bnd Roma 12:1; 2 Kor. 8:5). Persembahan itu lebih mulia daripada segalanya yang dapat kita persembahkan bagi-Nya, yang mungkin bisa disebut sebagai kelimpahan kita, yaitu talenta-talenta kodrati kita, seperti berkhotbah, melayani, mengajar, berkegiatan sosial; atau talenta kharismatis seperti berbahasa roh, menyembuhkan, berdoa, berbicara, dsb. Inilah kelimpahan-kelimpahan yang dipersembahkan banyak orang yang sudah menemukan makna kasih kepada gereja dan sesama sekalipun di dalam kondisi krisis.

Bersama dengan itu muncullah janda miskin ini. Ia adalah simbol kehidupan yang sepenuhnya terpusat pada mencari Allah saja, tidak ada yang lain. Ia mempunyai sedikit sekali untuk dipersembahkan. Ia hanya memiliki kepapaannya (miskin; sengsara), kesendiriannya, dan kelemahannya – kekurangannya yang mutlak. Inilah sebenarnya pengurbanan yang dipersembahkan Ayub kepada Allah ketika bersimpuh di atas kotoran hewan setelah iblis mencobainya (Ayub 2:8). Semua kebaikannya, kekayaannya, martabatnya – yang disebut “kelimpahannya” – sudah diambil dan ia mempersembahkan persembahan yang sangat mendasar, yaitu persembahan dirinya.

Renungan 
Jika kita menyimak arti peristiwa ini, kita memahami misteri sebuah kehidupan doa yang tersembunyi dan kuasanya. Meskipun tentu saja kita ingin secara akal sehat menggunakan talenta kita, melayani sesama, dan melakukan tugas kita dengan baik, ini bukan hal-hal yang paling penting. Persembahan yang diinginkan Allah jauh lebih sulit daripada semua jenis pelayanan kita karena merupakan persembahan keberadaan kita secara total – diri kita yang terdalam, yang biasanya meliputi kesusahan, kelemahan, dan keberdosaan.

Inilah yang cenderung menonjol dalam kesadaran kita. Persembahan dari kepapaan (kemiskinan; kesengsaraan) rohani kita ini merupakan persembahan yang mungkin tidak ada ganjarannya dalam hidup ini. Kita menyenangkan Kristus bila kita tidak memiliki apa-apa untuk dipamerkan selama bertahun-tahun melayani atau pelayanan, tetapi masih terus mau melayani-Nya, itulah persembahan yang mulia, yang sama dengan persembahan janda miskin tersebut.

Hanya sedikit orang yang mau memberikan persembahan ini. Mungkin itu yang menjadi sebab mengapa Gereja terpecah-belah hingga saat ini. Dua keping uang logam itu, atau lebih tepatnya, persembahan diri secara total yang dilambangkannya, tidak terlalu sering masuk ke dalam “peti persembahan”. Yesus sedang menatap tepat ke arah peti persembahan itu untuk memperoleh sukacita karena melihat janda miskin itu memasukkan persembahannya – keping logam itu sebagai simbol persembahan yang sangat kecil.

Namun, itulah arti kehidupan yang tersembunyi, sebuah persembahan yang tidak terlalu tampak berharga oleh dunia, tetapi daya kuasanya terbukti karena mampu membuat terharu hati Kristus, sumber segala rahmat. Bagaimana dengan pelayanan kita sebagai Tim Diakoni, apakah pelayanan yang kita lakukan ini sanggup membuat hati-Nya terharu? Apakah yang kita persembahkan ke dalam “peti persembahan” kepada Sang Sumber Rahmat? Layakkah kita mempersembahkan diri kita untuk melayani-Nya sebagai bagian dari tim diakoni di gereja?

Demikianlah juga Paulus menasehatkan jemaat di Korintus supaya hidup dalam pelayanan kasih. “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami – demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini,” (2 Kor. 8:7).

Mari kita renungkan dan maknai kembali setiap peristiwa yang kita miliki selama kita masih hidup di dunia ini. Tak ada kebahagiaan yang lebih bermakna daripada menemukan rahasia Ilahi sekalipun dibalik setiap krisis yang kita alami. Itulah yang ditemukan oleh seorang janda miskin. Sekalipun ia miskin dan sengsara, tetapi ia menemukan Kasih Ilahi dalam kehidupannya. Mari kita temukan hal itu dalam persembahan yang kita berikan dalam pelayanan kasih kita di Gereja – dalam bentuk apapun itu – dan  semoga pelayanan itu menjadi berkenan kepada-Nya. Selamat ber-diakoni.  

Saturday, April 12, 2014

Menjadi Pemberita dan Saksi Kebangkitan Kristus



(Kisah Rasul 10: 34-43)


Pengantar
Menyampaikan kabar tentang kebangkitan dari sebuah kematian adalah hal yang sangat sulit, apalagi menjadi pemberita saksi kebangkitan. Bagaimana kita dapat menerima – memahami secara logis, bahkan berhadapan dengan pengalaman mistis – kabar kebangkitan tersebut dan percaya akan kebangkitan Kristus, jika kita tidak melihat atau berada dalam situasi dan kondisi waktu itu? Sungguhkah Yesus bangkit dan kita percaya akan kebangkitan tersebut? Jika kita percaya akan kebangkitan-Nya, bagaimana kita dapat memaknai dan merayakan kebangkitan Kristus tersebut untuk menjadi pemberita saksi-Nya?

Mengapa banyak orang percaya sulit memaknai dan merayakan kebangkitan Kristus dalam kehidupan sehari-hari? Dalam perikop ini, Simon Petrus akhirnya diingatkan oleh Roh Kudus bahwa peristiwa kebangkitan Kristus bukanlah menjadi sebuah keselamatan yang berorientasi dan terarah kepada diri sendiri, tetapi pada panggilan untuk memikirkan, dan peduli dengan keselamatan sesama. Peristiwa Paskah seharusnya direspon dengan kegembiraan dan sukacita sebab Allah berkenan mengundang tiap orang untuk masuk dalam perjamuan keselamatan.              

Pembahasan
Kristus yang bangkit telah menggerakkan Petrus untuk memberitakan karya Keselamatan Allah. Namun, saat itu Petrus lebih fokus pada keselamatan sukunya, sebab ia menghayati karya keselamatan Allah dalam penebusan Kristus hanya ditujukan kepada umat Israel. Dalam hal ini, hati Petrus belum tersingkap seperti peristiwa yang dialami oleh Maria ketika pagi-pagi benar datang ke kubur Yesus. Maria Magdalena merasa kebingungan dan kesedihan yang mendalam karena menyaksikan jenazah Kristus lenyap dari kuburan-Nya. Kesedihan dan kebingungan Maria sangatlah manusiawi, sebab hal itu sangat wajar dan hal itu sering membuat diri kita tidak peka untuk melihat realitas kehadiran Tuhan. Saat kita sedih, galau, stress, dirundung masalah dan berbagai pergumulan hidup, kita sulit menyadari kehadiran Kristus.

Padahal, melalui peristiwa kebangkitan Kristus, Allah mengundang kita untuk menikmati anugerah keselamatan-Nya sebab karya keselamatan Allah yang telah membangkitkan Kristus bertujuan untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Gambaran hubungan yang telah dipulihkan dinyatakan dalam Yesaya 25:6, yang berkata: “Tuhan semesta alam akan menyediakan di Gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar; masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.”

Dalam hal ini ungkapan “masakan bergemuk dan anggur yang tua” menunjuk pada suatu kelimpahan dan berkat yang bergizi tinggi. Jamuan keselamatan Allah dalam kuasa kebangkitan Kristus pada hakikatnya merupakan jamuan syalom sehingga tiap umat yang hadir dalam perjamuan tersebut mengalami berkat Allah yang serba melimpah, bergizi dan berkualitas tinggi. Mereka tidak lagi mengalami suasana perkabungan dan air mata (Yesaya 25:7). Oleh karena itu peristiwa Paskah  seharusnya mampu mengubah karakter kita menjadi pribadi yang riang penuh syukur di tengah persoalan dan penderitaan yang tengah terjadi. Bahkan, peristiwa Paskah berarti pula memakai batu yang telah terguling sebagai media komunikasi yang efektif untuk memberitakan keselamatan Allah kepada sesama tanpa membedakan orang.

Peristiwa inilah yang dialami oleh Petrus yang diceritakan dalam perikop ini. Batu penutup di dalam hati Petrus belum berhasil digulingkan sehingga ia masih terjebak dalam eksklusivisme umat. Itulah sebabnya Allah menyingkapkan hati Petrus dengan simbolisasi kain terbentang yang berisi berbagai jenis hewan yang haram ketika rohnya diliputi kuasa ilahi (ay. 9-16). Makna penyataan Allah melalui simbolisasi kain terbentang itu adalah agar Petrus juga memberitakan keselamatan Kristus kepada segala bangsa tanpa memandang muka.

Sedangkan pada saat yang sama, Allah melalui malaikat-Nya juga menyatakan diri kepada Kornelius, seorang perwira bangsa Italia untuk menjumpai Petrus. Karya kebangkitan Kristus pada hakikatnya berupaya untuk mempertemukan tiap pihak yang semula terpisah oleh perbedaan budaya, kebangsaan, bahasa dan agama. Melalui perjumpaan tersebut, Petrus dan Kornelius mendapatkan pengertian dan pemahamannya yang lebih mendalam; masing-masing dengan pengalaman mistis . Dengan demikian, karya kebangkitan Kristus bertujuan untuk menyingkirkan tiap batu penutup yang menghalangi masing-masing orang untuk berdiskusi, saling mendengar dan bersaksi.

Berangkat dari pengalaman dan perjumpaan dengan Kornelius yang akhirnya membawa pada pertobatan dan iman kepada Kristus, Petrus kemudian berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah Firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu Firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.” (ay. 34-36). Dalam hal inilah karya kebangkitan Kristus membuka perspektif dan media baru agar tiap orang hidup dalam kasih karunia Allah.

Dengan demikian Kristus yang bangkit adalah Kristus yang memiliki kuasa untuk menghakimi setiap orang, khususnya orang yang mengharamkan sesamanya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah meniadakan tembok pemisah yang dahulu dipakai untuk mengasingkan dan mengharamkan sesama yang dianggap berbeda atau asing. Kristus yang telah bangkit pada hakikatnya hadir sebagai Kristus yang berkuasa mempertemukan tiap orang dalam rangkulan kasih anugerah-Nya. Tiap orang berharga di hadapan Allah karena Kristus telah menebus dosa mereka sehingga mereka tidak boleh saling meniadakan sesamanya.        

Di dalam Kristus tidak ada orang yang “haram” atau “najis” sebab tiap dosa yang telah menajiskan mereka telah ditebus-Nya. Walaupun demikian, kita masih sering berupaya menggagalkan karya keselamatan Allah dalam penebusan Kristus. Betapa sering kita masih “mengharamkan” orang lain yang berbeda dengan kita. Sebenarnya dibalik sikap “mengharamkan” orang tersebut terdapat suatu pemahaman yang keliru, yaitu mengasingkan orang orang lain karena kita menganggap diri kita lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dan lebih layak dibandingkan orang lain.

Renungan
Sukacita Paskah adalah sukacita yang membaharui, penuh kuasa dan yang menghidupkan orang-orang percaya di dalam kuasa Roh-Nya. Perayaan Paskah adalah peristiwa yang akan memotivasi orang percaya untuk mampu bersikap positif terhadap karya keselamatan Allah. Sehingga peristiwa Paskah merupakan peristiwa rohani yang dialami tiap orang yang percaya akan kebangkitan-Nya. Oleh sebab itu, peristiwa kebangkitan Kristus bukanlah sekedar peristiwa yang hanya dapat dijelaskan dengan pemahaman dan argumentasi teologis yang bisa diterima akal (logis). Namun peristiwa kebangkitan-Nya juga merupakan sebuah proses yang akan membawa setiap orang percaya berjumpa dengan pengalaman yang mistis, sebab kebangkitan-Nya merupakan misteri Ilahi.

Peristiwa itulah yang telah meruntuhkan tembok kesedihan, keputusasaan, ketakutan yang dialami oleh Maria Magdalena, bahkan meruntuhkan tembok egoisme diri, eksklusivisme dan superioritas yang dialami oleh Simon Petrus; gambaran dari berbagai pergumulan hidup manusia. Peristiwa Paskah memampukan semua orang percaya untuk hidup di dalam kuasa-Nya, karena itulah gereja hadir di dunia setelah peristiwa Paskah. Sehingga melalui perayaan Paskah yang dihidupi di dalam liturgi gereja, umat percaya senantiasa diteguhkan bahwa melalui kebangkitan Kristus, terbuka suatu kepastian akan pengampunan dosa dan keselamatan dari Allah.

Dalam artian, melalui kebangkitan Kristuslah, selaku umat percaya kita dimampukan untuk menerobos atau melewati realitas tembok kematian, kesedihan, egoisme diri, posesif, ketakutan, eksklusivisme dan duka lara yang kita hadapi setiap hari dengan kemenangan rohani. Sehingga, dengan pemaknaan itu jugalah umat Tuhan senantiasa akan dibaharui dan diperlengkapi oleh kuasa Roh Kudus-Nya untuk menjadi pemberita dan saksi kebangkitan Kristus bagi dunia. Bersediakah kita menjadi pemberita dan saksi kebangkitan-Nya dalam setiap keberadaan kita? Memaknai dan merayakan Paskah secara rohani akan menghadirkan pengalaman baru bagi kita. Bahkan kuasa-kebangkitan-Nya akan membawa kita masuk hingga ke dalam perjalanan mistis seperti yang dialami orang-orang yang telah mempersaksikan kebangkitan-Nya di dalam Injil. Selamat merayakan Paskah. Tuhan Yesus menyertai kita. Amen.

Tuesday, December 24, 2013

FIRMAN TELAH MENJADI DAGING



Selamat Hari Natal! Saudara-saudara, jemaat yang dikasihi Allah, marilah kita  bersama-sama memusatkan perhatian untuk memaknai   perayaan natal yang sedang kita lakukan, dalam terang Tema:  
FIRMAN TELAH MENJADI DAGING. Yohanes 1 : 1 – 14
Kita akan mulai dengan pertanyaan, siapakah  Firman itu?
Yohanes memulai tulisan Injilnya dengan berkata: “pada mulanya adalah Firman”, dalam bahasa Yunani disebut Logos. Pernyataan Yohanes tentang Logos menjadi jawaban terhadap dunia ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu di dunia Hellenisme dan Yudaisme.  Orang Yunani mengenal ‘logos’ yaitu kebijaksanaan yang didapat dari  ilmu pengetahuan,  dan orang Yahudi berkonsep tentang ‘logos’ sebagai kebijaksanaan yang didapat karena ketaatan kepada hukum-hukum. Logos seperti dikenal orang Yunani dan Yahudi sangat berbeda dengan apa yang diberitakan Yohanes, sebab ‘logos’ yang dikenal oleh orang Yunani bersifat spekulatif karena didasarkan pada ilmu pengetahuan (kata dan teori) dan  belum tentu dapat dibuktikan; demikian pula dengan ‘logos’ bagi orang Yahudi yang berdasar pada ketaatan akan hukum-hukum tidak memperlihatkan kesatuan antara kata dan tindakan, sebab bisa saja berbeda tindakan dengan apa digariskan dalam  hukum.
Logos yang diberitakan Yohanes adalah  Firman, Dia hidup dan bertindak.  Itu sebabnya Logos diterjemahkan dhabar (bhs. Ibrani), yaitu  Firman dan Peristiwa. Kalau Firman bukan sesuatu yang hidup dan bertindak, bagaimana Ia dapat berinkarnasi menjadi daging? Logos  adalah Firman yang sudah ada sejak dahulu kala (ay.1). Tidak diciptakan tetapi Pencipta - segala sesuatu berasal dari Dia (ay.3).  Dia bukan firman yang keluar dari mulut Allah, tetapi Dia adalah Firman yang ada bersama-sama dengan Allah Bapa, dan adalah Allah (ay.2). Siapakah Dia? Dialah Yesus Kristus! Firman yang berinkarnasi menjadi daging.
Mari kita telaah bersama,  apa yang menyebabkan  Allah harus  berinkarnasi menjadi manusia?
1.        Allah hendak memperkenalkan diri-Nya dan hidup bersama manusia.
Allah menjadi manusia berarti Allah bersedia untuk dikenal. Allah menyingkapkan selubung diri-Nya  untuk dikenal semua orang.  Kalau sebelumnya, Allah dianggap ‘tersembunyi’ dan   transenden –  tidak dapat diamati atau dijangkau panca indera, maka setelah berinkarnasi menjadi daging,  Allah menjadi  imanen. Itulah berita sukacita yang disampaikan Matius, ‘Imanuel’ – Allah menyertai kita (Mt. 1:23).  Manusia dengan segala kebolehannya tidak lagi berspekulasi tentang siapa dan bagaimana Allah. Allah yang dahulu kala berbicara kepada Abraham, Musa, nabi-nabi dan Israel telah menjadi daging – mengambil rupa manusia, dan bersama-sama dengan manusia.
Ada peristiwa yang luar biasa terjadi di surga dan di bumi ketika Allah berinkarnasi menjadi manusia. Jika sebelumnya Hukum Taurat dan firman yang disampaikan nabi-nabi adalah mendesak, menuntut manusia melakukan kebajikan sesuai kesegambarannya dengan Allah – Imago Dei, maka tuntutan itu dihentikan, Allah balik turun tangan, turun dari surga dan melakukan sesuatu yang terpenting dalam sejarah dunia, Allah ‘mereposisi diri’  dengan mengambil rupa manusia – Imago hominis. Allah memakai Maria di kota Betlehem untuk tujuannya itu. Di dalam diri Yesus Kristus, semua orang sudah melihat Allah secara sempurna. Maka dari itu, kita boleh berkesimpulan, bahwa manusia tidak dapat mengenal Allah kalau bukan Allah sendiri yang memperkenalkan diri-Nya (Yoh. 14:8-14).
2.       Allah mau menyelamatkan manusia.
Kata kunci untuk yang satu ini kita dapatkan dari rasul Yohanes: Karena begitu besar kasih Alah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,  melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).
Dari surga, Allah memandang manusia di dunia telah terancam maut karena dosa, sungguh manusia membutuhkan seorang Juru Selamat. Berbeda dengan apa yang dialami Israel ketika ditindas raja Babel, itu dengan mudah ditundukkan dengan membangkitkan Koresy, raja Persia untuk membebaskan umat-Nya. Tetapi kali ini beda, yang mengancam manusia adalah maut – kematian kekal, siapa yang bisa menolongnya? Maka Allah memutuskan mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat. Hanya Dia yang diperkenan Allah untuk menyelamatkannya.
Allah sungguh mencintai manusia dan tidak rela membiarkan manusia kesayangannya itu dibelenggu dosa. Maka Allah menghampiri, menolong dan menyelamatkannya. Benarlah apa yang dikatakan Paulus, oleh karena satu orang dosa menjalar kepada semua orang dan menghasilkan maut, dan oleh satu orang pula, yaitu Yesus Kristus, oleh karena kasih Allah, manusia dibenarkan dan diberi hidup yang kekal (bnd. Rm. 5:12,18). Maka semua kita hendaknya mengaminkan kabar baik yang disampaikan Yohanes: Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh.3:17). Untuk itu, pada malam natal ini tidak boleh tidak, sangat baik mengumandangkan nyanyian: Dia lahir untuk kami, Dia mati untuk kami, Dia bangkit untuk kami.
Bapak/ibu, saudara/i yang dikasihi Allah, apa dan bagaimana Tuhan Yesus memberi keselamatan itu kepada manusia?
a.       Menjadi teladan bagi orang percaya
Sejenak kita kembali lagi dengan kata Logos dan dhabar, yaitu Firman dan Peristiwa/tindakan. Tuhan Yesus menjadi Firman yang kelihatan, Firman yang bertindak. Dia menjadi terang bagi manusia. Dia tidak menggurui, Dia memberi teladan. Apa sebab manusia gamang dan lebih gampang mencaci dan mencerca orang lain? Bukankah karena tidak ada contoh yang patut diteladani? Untuk keselamatan manusia, Allah berhenti memarahi manusia melainkan  mengasihinya, tidak menyalahkan melainkan memberinya keteladanan. Tuhan Yesus bukan dosen terbang, tidak pula part-time. Dia hidup bersama-sama dengan manusia dan memberi hidup sepenuhnya untuk manusia. Dia tinggal di dunia,  Dia hidup dalam peradaban manusia, Dia tunduk kepada Kaisar, Dia bisa senang dan sedih, Dia merasa lapar dan haus.  Dia menjadi manusia biasa (bnd. Fil. 2:7) “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Dia rendah hati, Dia menjadi satu-satunya figur yang patut diteladani  dalam mengasihi, ketaatannya kepada Allah, kerendahan hati-Nya, kesucian-Nya. Semua itu diterjemahkan Yohanes dengan satu kalimat,  Dia adalah terang hidup (Yoh.1:4). Di dalam Dia semua orang boleh bercermin,  introsfeksi diri, apakah yang saya, anda telah dan sedang lakukan  berkenan di hadapan Tuhan atau tidak. Ambillah terang itu niscaya semua orang akan  tahu  mana yang baik dan tidak baik, apa yang berkenan kepada Tuhan dan yang bukan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, kepada kita semua, apapun strata yang menjadi kebanggaan kita, kalau mau hidup benar di hadapan Allah dan manusia, dengarlah suara Yesus yang sangat lembut dan tegas: ”Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh.13:15). “...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh.15:5).  “Akulah jalan, kebenaran dan hidup tidak seorang pun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh.14:6).
b.       Memperbaharui dan memberdayakan manusia
Firman menjadi daging atau Allah menjadi manusia tujuannya adalah untuk memperbaharui dan memberdayakan manusia. Dalam hal apa manusia dibaharui dan diberdayakan? Yohanes bersaksi “kepada yang percaya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah”(bnd. Yoh.1:12). Mari membuka hati yang terdalam, bukankah sesuatu hal yang baru dan menakjubkan bila Allah dengan cuma-cuma menerima kita menjadi anak-anak Allah? Di dalam Dia kita dibaharui, dan inilah kesaksian Paulus bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus, ia  adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Anak-anak Allah bukan hanya mereka yang percaya zaman dahulu kala tetapi juga setiap orang yang percaya sampai maranatha. Apa yang menjamin mereka menjadi anak-anak Allah? Jaminannya adalah iman dan menerima sakramen baptisan kudus dan perjamuan kudus. Dengan kedua sakramen itu setiap orang yang menerimanya dimaterai sebagai anak-anak Allah dan menjadi keluarga Allah.
c.       Panggilan Natal: Menjadi duta Kristus – agen perubahan
Bapak/ibu, saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Kehadiran kita semua pada perayaan ini adalah bukti bahwa kita semua percaya kepada Yesus Kristus, bukan itu saja, kita berharap terjadi sesuatu bagi diri kita, rumah kita, lingkungan kita. Dengan iman setiap anggota, tidak diragukan lagi, semuanya adalah anak-anak Allah. Lantas, apa yang kita lakukan sebagai anak-anak Allah supaya terjadi perubahan?
1.         Kita kembali kepada hakekat dari Logos dan dhabar, yaitu Firman dan Tindakan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Belajar dari Logos dan dhabar, apapun yang telah dan sedang terjadi di rumah, di gereja, di lingkungan, di tempat belajar dan di tempat bekerja, demi suatu perubahan, lakukanlah  sesuatu. Misalnya,  berhentilah mencaci, mencemooh, memaki, mengutuki,  dan mecerca sesuatu yang sudah terjadi tetapi mulailah bertindak mengasihi  dan memberi keteladanan. Sebuah keteladanan kecil adalah jauh lebih penting dan berguna mempengaruhi orang lain untuk berubah daripada seribu kata-kata kosong yang menjengkelkan.  Tetapi jangan lupa, keteladanan yang kita beri tidak lain dari keteladanan yang diberikan Tuhan Yesus dan melakukannya di dalam nama Tuhan Yesus.

2.        Mari mencermati lingkungan di mana kita tinggal, belajar dan bekerja. Masih banyak yang hidup dalam kegelapan – tidak menerima terang Kristus; masih banyak yang belum percaya, dan bahkan banyak yang terang-terangan menjadi anti-Kristus. Boleh dikatakan dunia hunian kita sedang ‘sakit’, materialistis, egoisme, narsist, semakin panas dan ganas. Itu kelihatan dengan meningkatnya jumlah koruptor, perampokan, penipuan, balas dendam, perceraian, dll.  Kalau dunia hunian kita sedang ‘sakit’, berarti membutuhkan  seorang tabib atau dokter.
Pada sisi lain, dunia kita dikenyangkan dengan teori dan orasi-orasi yang berapi-api, sepertinya memberi perhatian dan kepedulian terjadinya suatu perbaikan di masa mendatang. Semua itu menggelikan dan menggelitik telinga. Tidak mungkin seorang pasien  sembuh jika hanya sekedar dipidatoi. Seorang sakit  membutuhkan diagnosa dan obat yang menyembuhkan. Demikian dunia di mana kita tinggal, ia tidak akan sembuh dengan teori dan omong kosong. Hutan tidak akan pernah rimbun oleh seorang pintar berpidato tetapi oleh setiap orang yang bersedia menanam pohon. Lingkungan tidak akan bersih dan sehat bila anda sendiri tidak   rela mengutip sampah. (Mari kita praktekkan hari ini, jangan membuang sampah di gereja dan halaman).  Hidup saling mengasihi tidak akan pernah terjadi bila anda sendiri tidak berkenan mengasihi, dan hidup damai akan menjadi tinggal harapan bila tidak dimulai dari diri sendiri. Mari hidup dan kuat dengan firman Tuhan Yesus: Berbahagialah yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Mt. 5:9).
3.        Tahun depan, gereja Kristus, GKPI,  genap berusia 50 tahun. Apa yang sudah dicapai, marilah kita syukuri. Semua yang ada itu adalah produk semua pelayan dan warga GKPI. Tetapi, GKPI sebagai pembawa berita, Firman dan Peristiwa, apa yang akan dilakukan untuk memanggil orang lain yang masih hidup dalam kegelapan sehingga menjadi percaya kepada Kristus?
Desember tahun 2012, ketika saya berkunjung dengan sekolah minggu GKPI Medan Kota ke penjara Tanjung Gusta, ternyata jumlah anak-anak orang Kristen tidak kalah jumlahnya dengan yang bukan Kristen. Itu sangat memilukan hati. Lalu, empat bulan lalu, ketika saya berkunjung kembali bertepatan dengan bulan misi dari seksi Pekabaran Injil dari Medan Kota, jumlah itu meningkat lagi. Jangan katakan: “itu bukan anakku...itu bukan keluargaku”. Yang terpenting sekarang adalah apa yang harus dilakukan anak-anak Allah supaya jumlah itu menurun di masa datang? Apa yang harus dilakukan gereja supaya jumlah itu tidak terjadi? Dari hasil wawancara saya dengan beberapa napi tersebut bahwa kejahatan yang mereka lakukan adalah perkosaan, merampok. Dan mereka menjawab pertanyaan saya: “Apakah mereka dulu sering sekolah minggu?”, jawabnya ‘tidak’, apakah mereka ke gereja sesudah remaja? Jawabnya ‘tidak’. Apakah ayah dan ibunya sering ke gereja? Jawabnya “tidak, hanya ibuku”. Sekarang, mari kita beri jawab, apa yang harus dilakukan seorang ibu, apa yang harus dilakukan seorang ayah, apa yang harus dilakukan gereja supaya anak-anak yang kita kasihi itu tidak in the cost di penjara?
Saya pun selalu memberi perhatian dengan meningkatnya anak-anak yang kecanduan narkoba. Narkoba dan sabu-sabu menjadi bibit penyakit yang ditebarkan setan sampai ke semua pelosok desa di Indonesia. Itu kegelapan, siapa yang bersedia membawa terang kepada mereka? Apakah kita harus berkata, “sudah zamannya”? Demikan pula dengan keluarga muda dan pemuda/i yang terjangkit HIV/Aids, dari tahun ke tahun bertambah. Demikian pula dengan judi, judi bola dan togel. Semua itu masih menggerogoti kehidupan masyarakat. Baru-baru ini, seorang ibu ketika duduk di teras rumah pendeta bertanya kepada ibu lainnya: “nomor piga haluar eda?”, “ndang huboto dope, ndang di sms do pe ahu” ninna.
Bapak/ibu, saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus...GKPI Medan Kota hendaknya selalu memperbaharui dirinya. Kalau kita terbangun, kita sadari bahwa kehidupan teruna-teruna gereja kita sedang ‘terancam’ oleh narkoba, kebebasan seks, HIV/Aids, miras, perjudian, dll., apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya? apa yang harus kita lakukan supaya pemuda/i mencintai gereja? Apa yang harus ada supaya pemuda/i betah bermain di gereja? Terpenting lagi, GKPI hendaknya selalu eksis memperbaharui dirinya sehingga menjadi duta Kristus dan agen perubahan. Apakah GKPI sudah keluar, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri? Bagaimana dengan pendidikan? Bagaimana dengan kesehatan? Bagaimana dengan ekonomi dan hukum?
Secara khusus tentang sekolah minggu. Anggaplah ini sebagai sebuah masukan untuk dipertimbangan, bukankah bijak bila GKPI Medan Kota turut serta memperhatikan pendidikan kristen untuk anak-anak usia dini (PAUD). Pada kenyataannya, bila benih pohon diurus sejak kecil maka akan bertumbuh baik dan akan memberi benih-benih yang baik. Dengan melakukan semua itu maka gereja benar-benar memberitakan Firman telah menjadi daging. Amin. (Pdt. A. Hutauruk, M.Th).

TUHAN MENDENGARKAN SERUAN ORANG PERCAYA

PENDAHULUAN Saudara/i yang terkasih, kita bersyukur atas kasih dan penyertaan Tuhan karena kita masih bisa beribadah bersama pada ming...