Thursday, June 12, 2014

JAMINAN KEBERHASILAN HANYA DI DALAM TUHAN




Tanda-tanda zaman
Perkembangan zaman yang berlangsung sangat pesat hingga saat ini memperlihatkan telah terbukanya pintu kompetisi dan daya saing yang semakin tinggi (competitive advantage) di dunia internasional. Kita sudah masuk dalam peradaban globalisasi, yang sering disebut dengan “kampung global” (global village). Sehingga tidak ada lagi yang menghalangi, semua orang dan semua bangsa bebas berkompitisi. semua bisa berkompetisi dan mendapat akses dengan mudah, cepat dan terbuka dalam kecanggihan teknologi. Namun syaratnya, siapa yang tahan uji berkompetisi maka ia akan berhasil dan dipuji.

Namun tanpa kita sadari, perubahan yang berlangsung lebih banyak memberi dampak negatif bagi masyarakat yang belum siap menggunakan teknologi menjadi berkat dan sumber sukacita hidup. Bahkan semakin banyak terlihat perilaku yang serba praktis dan instan yang akhirnya merusak mental dan karakter generasi muda. Hal ini terlihat jelas pada hidup kawula muda, yang sering disapa dengan generasi Begh!!

Siapa generasi Begh ini? generasi begh ini adalah generasi BOSAN, ENTAHLAH, GALAU dan HOPELESS. Pertama, anak muda sekarang sangat gampang bosan. Karena kecanggihan teknologi membuat mereka menjadi ketagihan, malas belajar, pokoknya serba instan. Akhirnya menghadapi dunia nyata di sekolah dan mengikuti BIMBEL adalah hal yang membosankan. Kedua, sikap entahlah juga menjadi wabah pada anak muda saat ini. Mereka merasa hidup menjadi beban jika pergumulan dan tantangan datang silih berganti. Bahkan tidak ada keyakinan dan pengharapan sekalipun mereka sudah belajar dan mengikuti BIMBEL. 

Ketiga, sikap galau juga terjadi pada anak muda. Mereka sekarang senang dan bangga mengatakan dirinya galau; tidak memiliki prinsip dan jaminan hidup di dalam Tuhan. Hal ini dikarenakan cara pandang yang keliru dalam mengikut Tuhan. Sebab mereka sudah menjadikan teknologi menjadi tuhannya. Sehingga ketika persoalan datang, mereka menjadi goyah dan terombang-ambing.

Keempat, hopeless sudah menjadi virus yang sangat membahayakan, sebab virus ini sudah banyak yang membinasakan anak-anak Tuhan. Kegagalan dalam studi dan ketidak keberhasilan membuat banyak anak-anak muda tidak lagi beriman dan tidak berpengharapan. Menurut mereka Tuhan itu tidak ada dan tidak bisa memberi jaminan!

Menemukan Jaminan Keberhasilan Hanya Di Dalam Tuhan   
Saudara-saudariku yang terkasih, sungguh memperihatinkan kondisi yang terjadi pada generasi Begh ini. Sebab bisa saja kita juga sedang mengalami kondisi tersebut atau kita sedang melihat hal itu terjadi pada teman dan saudara kita. Hal ini harus kita singkirkan segera! Mari tinggalkan gaya hidup yang bosan, entahlah, galau dan tidak berpengharapan itu.

Anak-anak Tuhan harus yakin dan percaya bahwa jaminan keberhasilan hanya ada di dalam Tuhan dan bersama Tuhan, karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6). Oleh karena itu untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda, maka anak muda harus takut (hormat) kepada Tuhan, itulah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7).

Anak-anak Tuhan harus menjadi gerenasi Begh yang baru, yaitu berani (Be brave), terampil dan bertanggungjawab supaya menjadi ahli (Expertly), bangga dan bergelora (Glory) serta berpengharapan (Hopeful). Sehingga kita berani mengatakan begh untuk menghadapi berbagai tantangan. Pertama, anak-anak Tuhan haruslah berani (be brave) menghadapi kompetisi. Keberanian menjadi sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tesebut. Yakinlah, Tuhan akan berjalan bersama kita, menyertai kita, Dia tidak membiarkan kita dan tidak akan meninggalkan kita; oleh karena itu kita jangan takut. (bnd. Ul. 31:8).

Kedua, anak-anak Tuhan harus berani mencoba dan yakin dengan semua yang dikerjakan. Keberanian untuk terus berlatih akan membentuk pribadi yang terampil dan bertaggungjawab dalam bidang yang kita pilih. Disinilah keberanian mencoba dan mengerjakan apa yang sedang kita perjuangkan akan berbuah menjadikan kita semakin ahli (expertly). Ketiga, anak-anak Tuhan harus bangga (glory) dengan apa yang dikerjakan. Mencintai dan bangga terhadap jurusan dan fakultas yang kita pilih akan membuat kita menjadi bersemangat. Semangat yang bergelora tentu akan menghantarkan kita kepada kemenangan yang penuh sukacita.

Keempat, hidup yang berpengharapan (hopeful) di dalam Tuhan. Pengharapan adalah jalan sekaligus menjadi jaminan bagi setiap orang yang takut akan Tuhan. Sebab itulah janji-Nya kepada orang-orang yang menantikan Tuhan. Mereka akan mendapat kekuatan baru, seumpama burung rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yes. 40:31).

Renungan
Kita mungkin tidak memiliki cukup pengetahuan, pengalaman dan kepandaian untuk menghadapi dan melakukan suatu tanggung jawab besar yang ada di depan kita saat ini. Tetapi ketika kita bersungguh-sungguh mencari wajah Tuhan, maka Tuhan akan memberikan hikmat dari segala hikmat yang membuat kita dapat menjalankan dan menyelesaikan pekerjaan yang besar itu. Kita yakin tiada yang mustahil bagi Tuhan, Dia akan bekerja di dalam hidup kita, sehingga kita akan sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar. Jangan takut atas apa yang sedang kita hadapi. Carilah Tuhan maka Dia akan memberikan keberhasilan bagi tiap langkah hidup kita.

Lakukanlah apa yang benar di mata Tuhan dan akuilah Dia. Maka kita akan melihat banyak pintu-pintu yang dibukakan bagi jalan kita. Kita akan melihat keberhasilan demi keberhasilan di dalam hidup kita. Apa yang kelihatannya mustahil bagi manusia, Tuhan akan membuatnya menjadi mungkin di dalam hidup kita. Raihlah jaminan keberhasilan hanya bersama dengan Tuhan.

Selamat mengukuti SBMPTN buat adik-adik kami yang terkasih. Selamat berjuang dalam keberanian, sikap yang terampil, hati yang bangga dan bergelora serta berpengharapan di dalam Tuhan. Tuhan Yesus menyertai. Amen. [Dee]

* Disampaikan dalam Ibadah Pemberangkatan Mengikuti SBMPTN di GKPI Medan Kota

Monday, May 12, 2014

BERDOA



Bacaan : Yakobus 5:13-18 (James 5:13-18)

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (Yakobus 5:17-18).

Rasa ketergantungan hidup kita kepada Tuhan ditandai seberapa hati kita tunduk dalam ketaatan dan rasa membutuhkan Tuhan. Sikap membutuhkan Tuhan ditandai dengan seberapa sering kita bertelut di atas lutut kita untuk berdoa kepada Tuhan Yang Mahabesar. Jika Anda dan saya ingin menarik berkat-berkat turun dari atas dan mempengaruhi hidup Anda dan dunia sekitar kita. Anda harus bertelut, bersujud dengan rasa hormat dalam kerendahan hati, serta bergantung padaNya. Salah satu alasan kita begitu lelah di dalam hidup karena bergantung kepada kekuatan diri tanpa bergantung pada-Nya.

Hudson Taylor menantang: “Anda harus bergerak maju di atas lutut lutut Anda.” Martyn Llyod-Jones menulis dalam studinya tentang Khotbah di atas Bukit: “Doa, tak dapat disangkal lagi, merupakan kegiatan tertinggi manusia. Manusia menjadi teragung dan tertinggi ketika di atas lutut lututnya, ia berhadapan muka dengan muka dengan Allah.” Charles Hadson Spurgeon menulis: “Jika saya tak dapat bertelut karena badan saya terlalu lemah, doa-doa saya dari tempat tidur saya akan bertelut, hati saya akan bertelut, dan berdoa dengan sepatutnya seperti dulu.”

Almarhum Gypsi Smith bercerita tentang pertobatan pamannya, Rodney. Di dalam kelompok Gypsi, anak-anak tidak boleh berbicara kepada orang-orang yang lebih tua, kecuali kalau orang tua itu berbicara terlebih dulu. Gypsi muda berdoa untuk mendapat kesempatan berbicara. Suatu hari Roodney melihat celana panjang Gypsy yang sudah usang, “Nak, coba jelaskan, bagaimana lutut celana panjangmu sudah rusak dan sobek. Sedangkan bagian lainnya masih tampak seperti baru?” Gypsy menjawab, “Bagian lutut itu rusak, karena kupakai untuk berlutut dan berdoa bagimu paman,” lanjutnya dengan airmata mengalir, “aku sangat berharap agar paman percaya Tuhan Yesus!” Lalu Paman Roodney merangkul Gypsy dengan pelukan kebapakan, dan sesaat kemudian ia bertelut dan mengakui Kristus sebagai juruselamatnya.

Renungan hari ini, mengajak kita untuk kembali kepada semangat doa karena dunia sekarang dalam keadaan yang tidak menentu. Kita membutuhkan kuasa Tuhan yang dapat mengendalikan keadaan dunia dan hidup kita. Yakobus 5:17-18 mengatakan Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya. Marilah kita mengandalkan Tuhan dalam doa kita disetiap tugas pekerjaan pelayanan kita. Tuhan Yesus menyertai. Amen



Kata-kata bijak:
Semangat doa mendatangkan kasih dan kuasa Allah di dalam hidup kita.

 
*Disampaikan sebagai bahan renungan malam, Jumat 20 Juli 2014 dalam Pembinaan Penatua GKPI Medan Kota di Sopo Agape Tomok

SUDAHKAH PELAYANAN KASIH SEKSI DIAKONI MENJADI IBADAH YANG SEJATI?



(Refleksi Penelaahan Alkitab Tim Diakoni GKPI Medan Kota 
Dari Persembahan Janda Miskin dalam Lukas 21:1-4)



Pengantar
Tanpa kita sadari, dewasa ini tantangan hidup yang kita hadapi semakin banyak dan kompleks. Kekecewaan dan kegagalan menjadi semakin akrab dengan kehidupan kita. Bahkan, tak jarang kita harus mengalami kegagalan dan kekecewaan yang menyakitkan atau menggoncangkan hidup. Dalam kondisi itulah kita berada dalam masa krisis; bahkan krisis iman dan krisis kasih. Namun bila kita peka akan rahmat Allah, maka krisis kehidupan tersebut akan kita lihat sebagai undangan untuk semakin mendalami hati Yesus. Bila kita menanggapi kehadiran Yesus secara optimis, maka sesuatu yang mengagumkan akan terjadi, menyentuh hati dan membaharui hati.

Tak ada kebahagiaan yang lebih bermakna daripada menemukan rahasia kasih-Nya dibalik setiap krisis yang kita alami. Namun banyak orang sulit melihatnya secara rohani. Itulah rahasia yang ditemukan oleh seorang janda miskin dalam Injil Lukas, yang diungkapkan dalam refleksi ini. Sekalipun janda tersebut miskin dan sengsara, tetapi ia menemukan Kasih Ilahi dalam kehidupannya.  

Pembahasan
Pada suatu hari Yesus mengunjungi Bait Allah. Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Peti itu mungkin seperti kotak yang berada di pintu-pintu gereja modern. Apapun bentuknya, pada waktu itu Yesus melihat cara mereka memberikan persembahan. Di antara orang-orang kaya, Yesus memperhatikan seorang janda miskin memasukkan dua keping kecil logam. Melihat hal itu, Yesus bersukacita dan mungkin menangis terharu. Lalu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimp ahannya, tetapi janda ini memberi dari dana kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Sebelum peristiwa itu, Yesus berbicara tentang ahli-ahli Taurat. “Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan yang mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka itu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Lukas 20: 45-47).

Yesus memandang rendah orang yang suka pamer pada umumnya, khususnya mereka yang suka pamer kesalehan. Kemudian, muncul seorang janda miskin. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Yesus sedang memperhatikan apa yang dilakukannya. Sepengetahuan kita, janda itu tidak pernah mengetahui ia mendapat sambutan hangat dari Yesus. Karena setelahnya Yesus tidak memanggil dan menepuk-nepuk punggungnya sebagai tanda menyukainya. Tidak juga ada ganjaran atas persembahannya yang agung itu.

Siapakah janda ini? Pertama ia seorang janda. Dengan kata lain ia tidak mempunyai suami yang memberi nafkah. Ia juga seorang peminta-minta. Ia tidak mempunyai harta apa pun. Ia memasukkan uangnya “ke dalam peti persembahan”. Ia memasukkan semua yang dimilikinya, yang berupa dua keping uang logam. Kita bisa memahami dua keping kecil logam ini sebagai lambang kodrat manusia, yaitu tubuh dan jiwa. Janda itu tidak mempunyai sesuatu yang lebih berharga untuk dipersembahkan kecuali jiwa dan raganya. Namun, karena ia memberi semua yang dimilikinya, ia memberi lebih banyak daripada yang lainnya.

Tidakkah hal itu mengingatkan kita pada ajaran yang berulang-ulang dikatakan dalam Injil, bahwa yang dicari Allah dari kita adalah persembahan yang bukan saja dari uang saku kita, tetapi dari keberadaan kita yang terdalam; persembahan diri (bnd Roma 12:1; 2 Kor. 8:5). Persembahan itu lebih mulia daripada segalanya yang dapat kita persembahkan bagi-Nya, yang mungkin bisa disebut sebagai kelimpahan kita, yaitu talenta-talenta kodrati kita, seperti berkhotbah, melayani, mengajar, berkegiatan sosial; atau talenta kharismatis seperti berbahasa roh, menyembuhkan, berdoa, berbicara, dsb. Inilah kelimpahan-kelimpahan yang dipersembahkan banyak orang yang sudah menemukan makna kasih kepada gereja dan sesama sekalipun di dalam kondisi krisis.

Bersama dengan itu muncullah janda miskin ini. Ia adalah simbol kehidupan yang sepenuhnya terpusat pada mencari Allah saja, tidak ada yang lain. Ia mempunyai sedikit sekali untuk dipersembahkan. Ia hanya memiliki kepapaannya (miskin; sengsara), kesendiriannya, dan kelemahannya – kekurangannya yang mutlak. Inilah sebenarnya pengurbanan yang dipersembahkan Ayub kepada Allah ketika bersimpuh di atas kotoran hewan setelah iblis mencobainya (Ayub 2:8). Semua kebaikannya, kekayaannya, martabatnya – yang disebut “kelimpahannya” – sudah diambil dan ia mempersembahkan persembahan yang sangat mendasar, yaitu persembahan dirinya.

Renungan 
Jika kita menyimak arti peristiwa ini, kita memahami misteri sebuah kehidupan doa yang tersembunyi dan kuasanya. Meskipun tentu saja kita ingin secara akal sehat menggunakan talenta kita, melayani sesama, dan melakukan tugas kita dengan baik, ini bukan hal-hal yang paling penting. Persembahan yang diinginkan Allah jauh lebih sulit daripada semua jenis pelayanan kita karena merupakan persembahan keberadaan kita secara total – diri kita yang terdalam, yang biasanya meliputi kesusahan, kelemahan, dan keberdosaan.

Inilah yang cenderung menonjol dalam kesadaran kita. Persembahan dari kepapaan (kemiskinan; kesengsaraan) rohani kita ini merupakan persembahan yang mungkin tidak ada ganjarannya dalam hidup ini. Kita menyenangkan Kristus bila kita tidak memiliki apa-apa untuk dipamerkan selama bertahun-tahun melayani atau pelayanan, tetapi masih terus mau melayani-Nya, itulah persembahan yang mulia, yang sama dengan persembahan janda miskin tersebut.

Hanya sedikit orang yang mau memberikan persembahan ini. Mungkin itu yang menjadi sebab mengapa Gereja terpecah-belah hingga saat ini. Dua keping uang logam itu, atau lebih tepatnya, persembahan diri secara total yang dilambangkannya, tidak terlalu sering masuk ke dalam “peti persembahan”. Yesus sedang menatap tepat ke arah peti persembahan itu untuk memperoleh sukacita karena melihat janda miskin itu memasukkan persembahannya – keping logam itu sebagai simbol persembahan yang sangat kecil.

Namun, itulah arti kehidupan yang tersembunyi, sebuah persembahan yang tidak terlalu tampak berharga oleh dunia, tetapi daya kuasanya terbukti karena mampu membuat terharu hati Kristus, sumber segala rahmat. Bagaimana dengan pelayanan kita sebagai Tim Diakoni, apakah pelayanan yang kita lakukan ini sanggup membuat hati-Nya terharu? Apakah yang kita persembahkan ke dalam “peti persembahan” kepada Sang Sumber Rahmat? Layakkah kita mempersembahkan diri kita untuk melayani-Nya sebagai bagian dari tim diakoni di gereja?

Demikianlah juga Paulus menasehatkan jemaat di Korintus supaya hidup dalam pelayanan kasih. “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami – demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini,” (2 Kor. 8:7).

Mari kita renungkan dan maknai kembali setiap peristiwa yang kita miliki selama kita masih hidup di dunia ini. Tak ada kebahagiaan yang lebih bermakna daripada menemukan rahasia Ilahi sekalipun dibalik setiap krisis yang kita alami. Itulah yang ditemukan oleh seorang janda miskin. Sekalipun ia miskin dan sengsara, tetapi ia menemukan Kasih Ilahi dalam kehidupannya. Mari kita temukan hal itu dalam persembahan yang kita berikan dalam pelayanan kasih kita di Gereja – dalam bentuk apapun itu – dan  semoga pelayanan itu menjadi berkenan kepada-Nya. Selamat ber-diakoni.  

Saturday, April 12, 2014

Menjadi Pemberita dan Saksi Kebangkitan Kristus



(Kisah Rasul 10: 34-43)


Pengantar
Menyampaikan kabar tentang kebangkitan dari sebuah kematian adalah hal yang sangat sulit, apalagi menjadi pemberita saksi kebangkitan. Bagaimana kita dapat menerima – memahami secara logis, bahkan berhadapan dengan pengalaman mistis – kabar kebangkitan tersebut dan percaya akan kebangkitan Kristus, jika kita tidak melihat atau berada dalam situasi dan kondisi waktu itu? Sungguhkah Yesus bangkit dan kita percaya akan kebangkitan tersebut? Jika kita percaya akan kebangkitan-Nya, bagaimana kita dapat memaknai dan merayakan kebangkitan Kristus tersebut untuk menjadi pemberita saksi-Nya?

Mengapa banyak orang percaya sulit memaknai dan merayakan kebangkitan Kristus dalam kehidupan sehari-hari? Dalam perikop ini, Simon Petrus akhirnya diingatkan oleh Roh Kudus bahwa peristiwa kebangkitan Kristus bukanlah menjadi sebuah keselamatan yang berorientasi dan terarah kepada diri sendiri, tetapi pada panggilan untuk memikirkan, dan peduli dengan keselamatan sesama. Peristiwa Paskah seharusnya direspon dengan kegembiraan dan sukacita sebab Allah berkenan mengundang tiap orang untuk masuk dalam perjamuan keselamatan.              

Pembahasan
Kristus yang bangkit telah menggerakkan Petrus untuk memberitakan karya Keselamatan Allah. Namun, saat itu Petrus lebih fokus pada keselamatan sukunya, sebab ia menghayati karya keselamatan Allah dalam penebusan Kristus hanya ditujukan kepada umat Israel. Dalam hal ini, hati Petrus belum tersingkap seperti peristiwa yang dialami oleh Maria ketika pagi-pagi benar datang ke kubur Yesus. Maria Magdalena merasa kebingungan dan kesedihan yang mendalam karena menyaksikan jenazah Kristus lenyap dari kuburan-Nya. Kesedihan dan kebingungan Maria sangatlah manusiawi, sebab hal itu sangat wajar dan hal itu sering membuat diri kita tidak peka untuk melihat realitas kehadiran Tuhan. Saat kita sedih, galau, stress, dirundung masalah dan berbagai pergumulan hidup, kita sulit menyadari kehadiran Kristus.

Padahal, melalui peristiwa kebangkitan Kristus, Allah mengundang kita untuk menikmati anugerah keselamatan-Nya sebab karya keselamatan Allah yang telah membangkitkan Kristus bertujuan untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Gambaran hubungan yang telah dipulihkan dinyatakan dalam Yesaya 25:6, yang berkata: “Tuhan semesta alam akan menyediakan di Gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar; masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.”

Dalam hal ini ungkapan “masakan bergemuk dan anggur yang tua” menunjuk pada suatu kelimpahan dan berkat yang bergizi tinggi. Jamuan keselamatan Allah dalam kuasa kebangkitan Kristus pada hakikatnya merupakan jamuan syalom sehingga tiap umat yang hadir dalam perjamuan tersebut mengalami berkat Allah yang serba melimpah, bergizi dan berkualitas tinggi. Mereka tidak lagi mengalami suasana perkabungan dan air mata (Yesaya 25:7). Oleh karena itu peristiwa Paskah  seharusnya mampu mengubah karakter kita menjadi pribadi yang riang penuh syukur di tengah persoalan dan penderitaan yang tengah terjadi. Bahkan, peristiwa Paskah berarti pula memakai batu yang telah terguling sebagai media komunikasi yang efektif untuk memberitakan keselamatan Allah kepada sesama tanpa membedakan orang.

Peristiwa inilah yang dialami oleh Petrus yang diceritakan dalam perikop ini. Batu penutup di dalam hati Petrus belum berhasil digulingkan sehingga ia masih terjebak dalam eksklusivisme umat. Itulah sebabnya Allah menyingkapkan hati Petrus dengan simbolisasi kain terbentang yang berisi berbagai jenis hewan yang haram ketika rohnya diliputi kuasa ilahi (ay. 9-16). Makna penyataan Allah melalui simbolisasi kain terbentang itu adalah agar Petrus juga memberitakan keselamatan Kristus kepada segala bangsa tanpa memandang muka.

Sedangkan pada saat yang sama, Allah melalui malaikat-Nya juga menyatakan diri kepada Kornelius, seorang perwira bangsa Italia untuk menjumpai Petrus. Karya kebangkitan Kristus pada hakikatnya berupaya untuk mempertemukan tiap pihak yang semula terpisah oleh perbedaan budaya, kebangsaan, bahasa dan agama. Melalui perjumpaan tersebut, Petrus dan Kornelius mendapatkan pengertian dan pemahamannya yang lebih mendalam; masing-masing dengan pengalaman mistis . Dengan demikian, karya kebangkitan Kristus bertujuan untuk menyingkirkan tiap batu penutup yang menghalangi masing-masing orang untuk berdiskusi, saling mendengar dan bersaksi.

Berangkat dari pengalaman dan perjumpaan dengan Kornelius yang akhirnya membawa pada pertobatan dan iman kepada Kristus, Petrus kemudian berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah Firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu Firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.” (ay. 34-36). Dalam hal inilah karya kebangkitan Kristus membuka perspektif dan media baru agar tiap orang hidup dalam kasih karunia Allah.

Dengan demikian Kristus yang bangkit adalah Kristus yang memiliki kuasa untuk menghakimi setiap orang, khususnya orang yang mengharamkan sesamanya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah meniadakan tembok pemisah yang dahulu dipakai untuk mengasingkan dan mengharamkan sesama yang dianggap berbeda atau asing. Kristus yang telah bangkit pada hakikatnya hadir sebagai Kristus yang berkuasa mempertemukan tiap orang dalam rangkulan kasih anugerah-Nya. Tiap orang berharga di hadapan Allah karena Kristus telah menebus dosa mereka sehingga mereka tidak boleh saling meniadakan sesamanya.        

Di dalam Kristus tidak ada orang yang “haram” atau “najis” sebab tiap dosa yang telah menajiskan mereka telah ditebus-Nya. Walaupun demikian, kita masih sering berupaya menggagalkan karya keselamatan Allah dalam penebusan Kristus. Betapa sering kita masih “mengharamkan” orang lain yang berbeda dengan kita. Sebenarnya dibalik sikap “mengharamkan” orang tersebut terdapat suatu pemahaman yang keliru, yaitu mengasingkan orang orang lain karena kita menganggap diri kita lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dan lebih layak dibandingkan orang lain.

Renungan
Sukacita Paskah adalah sukacita yang membaharui, penuh kuasa dan yang menghidupkan orang-orang percaya di dalam kuasa Roh-Nya. Perayaan Paskah adalah peristiwa yang akan memotivasi orang percaya untuk mampu bersikap positif terhadap karya keselamatan Allah. Sehingga peristiwa Paskah merupakan peristiwa rohani yang dialami tiap orang yang percaya akan kebangkitan-Nya. Oleh sebab itu, peristiwa kebangkitan Kristus bukanlah sekedar peristiwa yang hanya dapat dijelaskan dengan pemahaman dan argumentasi teologis yang bisa diterima akal (logis). Namun peristiwa kebangkitan-Nya juga merupakan sebuah proses yang akan membawa setiap orang percaya berjumpa dengan pengalaman yang mistis, sebab kebangkitan-Nya merupakan misteri Ilahi.

Peristiwa itulah yang telah meruntuhkan tembok kesedihan, keputusasaan, ketakutan yang dialami oleh Maria Magdalena, bahkan meruntuhkan tembok egoisme diri, eksklusivisme dan superioritas yang dialami oleh Simon Petrus; gambaran dari berbagai pergumulan hidup manusia. Peristiwa Paskah memampukan semua orang percaya untuk hidup di dalam kuasa-Nya, karena itulah gereja hadir di dunia setelah peristiwa Paskah. Sehingga melalui perayaan Paskah yang dihidupi di dalam liturgi gereja, umat percaya senantiasa diteguhkan bahwa melalui kebangkitan Kristus, terbuka suatu kepastian akan pengampunan dosa dan keselamatan dari Allah.

Dalam artian, melalui kebangkitan Kristuslah, selaku umat percaya kita dimampukan untuk menerobos atau melewati realitas tembok kematian, kesedihan, egoisme diri, posesif, ketakutan, eksklusivisme dan duka lara yang kita hadapi setiap hari dengan kemenangan rohani. Sehingga, dengan pemaknaan itu jugalah umat Tuhan senantiasa akan dibaharui dan diperlengkapi oleh kuasa Roh Kudus-Nya untuk menjadi pemberita dan saksi kebangkitan Kristus bagi dunia. Bersediakah kita menjadi pemberita dan saksi kebangkitan-Nya dalam setiap keberadaan kita? Memaknai dan merayakan Paskah secara rohani akan menghadirkan pengalaman baru bagi kita. Bahkan kuasa-kebangkitan-Nya akan membawa kita masuk hingga ke dalam perjalanan mistis seperti yang dialami orang-orang yang telah mempersaksikan kebangkitan-Nya di dalam Injil. Selamat merayakan Paskah. Tuhan Yesus menyertai kita. Amen.

TUHAN MENDENGARKAN SERUAN ORANG PERCAYA

PENDAHULUAN Saudara/i yang terkasih, kita bersyukur atas kasih dan penyertaan Tuhan karena kita masih bisa beribadah bersama pada ming...